Home » , » Carut Marut Industri Pertelevisian “Kebablasan” ala Indonesia

Carut Marut Industri Pertelevisian “Kebablasan” ala Indonesia

Written By MZD's on Selasa, 18 September 2012 | 07.41




 Acara favorit anak bangsa di sebuah saluran TV yang paling banyak diminati di Indonesia :
  1. musik pagi sampai tengah hari
  2. gossip artis siang hari sampai sore hari
  3. reality show yang menjual kemiskinan di sore sampai magrib
  4. sinetron yang menjual wajah artis tanpa ada faedah yang bisa diambil di malam hari.
  5. Lawakan dan humor

Apakah ada dampak yang positif dan mengena dari sekian banyak acara tersebut hingga memotivasi generasi muda untuk membangun bangsa? Tidak ada yang dihasilkan dari acara tersebut, kecuali hanya membuat generasi bangsa semakin larut dalam nyanyian kesenangan dan hura-hura, dan mengajarkan mereka untuk meniru para artis yang mereka idolakan walaupun artis tersebut melakukan hal yang tidak pantas untuk ditiru.

Perhatikan juga bagaimana para produser menjual orang miskin lewat program reality shownya yang “katanya” menggugah nurani untuk membantu sesama, namun yang nampak hanya sekedar tontonan penghibur semata tanpa ada langkah konkrit untuk menolong. Dan yang paling miris adalah tontonan sinetron yang jumlah episodenya bereret seperti anak tangga namun tidak ada manfaat yang bisa dipetik dari sinetron tersebut, kecuali sekedar pencuci mata dan malahan mengajarkan orang untuk ber-iri hati dan dendam yang tidak jelas unjung pangkalnya lewat alur cerita yang juga tidak ada manfaatnya bagi perkembangan bangsa.

Hiburan apa yang bisa mengangkat citra bangsa ini? Hiburan macam apa yang bisa memajukan akal dan cara berpikir anak bangsa?

Kemana perginya kuis dan segala permainan ketangkasan otak yang bermanfaat untuk mengasah kemampuan berfikir yang dahulu ada di TV? Kemana tenggelamnya televisi yang dahulu mengangkat pendidikan dan  program berita yang senantiasa memberitakan kemajuan bangsa? Kenapa yang ada hanya berita si A korupsi, si B memangkas dana, si C membunuh? Acara yang berkualitas seolah tenggelam ke dasar lautan yang paling dalam seiring dengan tenggelamnya minat anak bangsa untuk memajukan bangsa dengan iptek dan pendidikan yang memajukan. Mereka lebih tertarik dengan hiburan dan hiruk pikuk kesenangan sesaat yang berpotensi menghancurkan identitas bangsa, karena mereka adalah tunas bangsa yang seharusnya membangun negeri ini. Dari pagi mereka dicekoki dengan musik sampai tengah hari disuguhi acara yang membahas aib orang lain dan mengungkap rahasia pribadi orang lain dan mereka bangga mengkabarkannya. Dan di malam hari saatnya mereka mendengar dongeng yang mengajarkan bagaimana cara membenci sesama, merusak rumah tangga orang, menjadi peran antagonis, dan perhatikan bagaimana keadaan anak bangsa saat mereka berada di lingkungan sekolah.

Sekolah merupakan tempat menuntut ilmu, bukan memamerkan baju. Sekolah adalah sumbernya banyak buku, bukan tempat berbagi gossip dan cerita sinetron semalam. Sekolahpun seharusnya memajukan murid, bukan menarik iuran sebesar-besarnya. Sekolah pun telah kehilangan identitas aslinya di acara yang dipertontonkan setiap hari di mata pemuda bangsa. Alasan kebebasan berekspresi adalah alibi utama mereka.

Sistem apa yang sebenarnya harus diterapkan dalam Negara yang besar ini?

Jelang kemerdekaan bangsa Indonsesia untuk yang kedua kalinya yang ditandai dengan tumbangnya Presiden berkuasa Soeharto, arus informasi semakin gencar masuk ke bilik-bilik setiap rumah. Mulai dari kota sampai perkampungan terpencil menatap ke satu arah termurah dalam mendapatan akses informasi yaitu TV. Barangkali tidak ada satupun rumah di Negara Indonesia yang luput dari sebuah benda bernama televisi. TV merupakan media terpenting dalam penyampaian informasi dari dalam dan luar negeri yang digunakan rakyat yang katanya komunitas masyarakat Muslim terbesar di Dunia.

Dalam sebuah keluarga setiap harinya TV akan hidup di setiap sudut rumah paling tidak selama dua sampai tiga jam. Itu adalah kiraan minimal. Bisa dibayangkan acara apa saja yang ditampilkan televisi untuk menarik minat penonton dan menaikkan rating.  Dan berapa besar jumlah penonton yang akan terhipnotis dalam naungan tontonan yang sering kita lihat menyalahi nilai dan norma yang katanya dijunjung tinggi anak bangsa. Dan taukah kita bagaimana  televisi  itu bisa membentuk opini masyarakat dari sesuatu  isu ke isu yang lain tanpa disadari oleh masyarakat itu sendiri ? 

Sebagai sebuah industri mereka tidak akan melihat efek dari tayangan, tujuan mereka adalah merauk keuntungan sebesar-besarnya. Prinsip ekonomi ini sangat berbanding terbalik dengan prinsip moral dan agama. Karena dengan semua orang bisa memanfaatkan apa saja untuk merauk keuntungan. Apakah ini yang dinamakan dengan sistem ekonomi kapitalis? Yang kaya akan bertambah kaya, dan yang miskin tetap miskin, dan tidak ada kepedulian terhadap efek negative yang timbul dari tontonan yang ditayangkan?

Televisi saat ini banyak menayangkan program acara yang tidak sesuai dengan nilai moralitas dan norma yang selama ini dianut bangsa. Program acara yang sangat banyak, full 24 jam namun tidak berdampak positif bagi kemajuan anak bangsa bahkan cenderung membuang waktu dan membodohi bangsa sendiri. Jika kita mau berkaca pada Negara lain, Korea misalnya dahulu tidak dikenal sama sekali oleh dunia. Bahkan Negara tersebut dilanda wabah dan tidak mampu memproduksi apapun, tidak ada sumber alam. Dari sana mereka bangkit, mereka memberdayakan sumber daya manusia yang mereka miliki semaksimal mungkin. Tidak lebih dari limapuluh tahun mereka mampu menjadi Negara produktif. Mereka menumbuhkan rasa nasionalisme itu dengan memberdayakan akal dan pikiran yang Tuhan berikan. Hingga saat ini kita mampu melihat bagaimana pesatnya perkembangan Negara kecil tersebut. Lihatlah sebagian besar merek terkenal  seperti Samsung dan Hyundai, bahkan cara berpakaian mereka menjadi pusat fashion bagi sebagian orang saat ini. Namun apa yang telah dicapai oleh bangsa kita dengan memakai produk luar? Meniru cara mereka berpakaian? Tidak pede dengan budaya sendiri? Bukankah mereka bisa maju karena mereka orisinil dan tidak meniru? Lantas kenapa negeri ini bisanya hanya meniru dan mencontoh keluar? Kapan kita bisa menjadi contoh dan dicontoh oleh orang lain?

Apakah negeri ini tidak mampu? Ataukah manusianya yang tidak mau?

Kemudian timbul pertanyaan besar di benak kita atas kecenderungan dan minta pemuda pemudi bangsa pada kehidupan yang hedonis, meterialis, dan hura-hura. Kita tidak perlu lagi menyebut satu-persatu acara mana yang mengajarkan penonton nya untuk berpikiran mundur ini. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya agar tatanan pertelevisian di Indonesia berubah ke arah yang lebih baik. Lihatlah betapa banyak produser yang berlomba-lomba menarik perhatian pemirsanya dengan membuat trend tertentu tanpa memperhatikan pergeseran nilai dan norma yang kita anut. Film yang dibuat sedemikian rupa membodohi anak bangsa dengan judul horror misalnya, namun isinya dipenuhi kevulgaran belaka. Kemana perginya buku panduan PPKn yang dahulu dipelajari semasa di sekolah? Apakah jam pelajaran agama di sekolah masih kurang hingga perlu tambahan waktu dalam memperdalam ilmu agama?

Semakin hari semakin hilang lah jati diri bangsa besar ini. Tidak ada lagi tokoh dan panutan bangsa yang bisa ditiru oleh tunas bangsa. Hal ini memaksa mereka mengadopsi ide dan cara berpikir hingga gaya hidup dari luar. Tidak dapat disangkal lagi, TV mengambil peran terbesar atas pergesaran nilai budaya bangsa selama ini.

 Lantas siapa yang bertanggung jawab?

Keluarga adalah penentu dalam baik dan buruknya sebuah karakter tumbuh. Bimbingan orangtua yang baik akan mampu menghasilkan anak yang baik. Saya tidak mengajak kita untuk berpikir kolot dan konservatif. Tapi kita tahu bahwa kesalahan cara pandang dan berfikir kita saat ini adalah karena kita terlalu bebas dan terlalu merdeka dalam mengambil tindakan. Akal yang kita gunakan sangat terbatas untuk memberikan sebuah skema benar dan salahnya sesuatu. Hingga kita membutuhkan yang namanya nilai dan norma yang telah lama dianut untuk berfikir dan berbuat, agar kita tidak terjebak dalam alur kebebasan yang kebablasan.

Teringat beberapa waktu yang lalu, kejadian pemerkosaan di Jakarta sangat marak. Diduga pemicunya adalah rok mini. Beberapa gerombolan wanita menggunakan rok mini berdemonstrasi di sekitar bundaran HI untuk menuntut hak-hak mereka agar dilindungi dalam berpakaian. Saya kemudian berusaha membandingkan hal ini dengan beberapa Negara maju di Eropa misalnya. Banyak sekali wanita yang berpakaian mini, dan tidak ada diantara mereka yang komplain ketika orang melihatnya dengan mata nafsu dan tidak menutup kemungkinan mereka dilecehkan. Kenapa? Karena mereka “siap” berpakaian mini, dan “siap” pula dengan segala resiko yang akan dialami.

Lain halnya ketika anda berpakaian mini di daerah yang masih menjunjung tinggi nilai dan norma agama dan adat. Maka anda harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, bukan lingkungan yang harus menyesuaikan diri dengan anda.

Apakah tidak ada semacam lembaga yang melindungi hak asasi nilai dan norma? Kenapa setiap langkah dan pikiran manusia itu harus dilindungi oleh sebuah lembaga yang bernama HAM? Kenapa tidak ada batasan dalam melindungi HAM? Sehingga sesuatu yang keluar dari jalur pun bisa dihalalkan atas nama HAM?

Negara ini sangat membutuhkan perubahan yang dapat meng-instal ulang seluruh komponen software dan hardware yang ada dalam seluruh elemen masyarakat. Dan salah satu pemicu dalam pergerakan menuju perubahan itu adalah televisi. TV dapat menjangkau seluruh komponen masyarakat. Dengan menggunakan TV sebagaimana seharusnya, masyarakat dapat melihat bagaimana caranya bersikap dan bertindak demi kemajuan bangsa. Isilah TV dengan segala program yang menunjang kemampuan berfikir masyarakat agar lebih maju. Tidak perlu lagi acara lawakan-lawakan dan humor tidak bermanfaat diputar setiap waktu. Sudah saatnya kita merombak dan mereformasi media elektronik termurah ini dalam bekerja. Karena titik lemah nya akan menjadi titik lemah bagi bangsa, sebab ia diperhatikan oleh jutaan pasang mata .

Inilah saatnya kehadiran sebuah televisi Islam yang dinantikan membawa perubahan. Mengajarkan kebaikan dan mengangkat kembali nilai moral dan agama menjadi tuntunan hidup. Cukup sudah dengan hiburan nonsense yang melalaikan generasi bangsa. Masih banyak PR generasi bangsa ini untuk dikoreksi bersama, mulai dari permasalahan kesejahteraan, kemiskinan, korupsi, hingga carut marut aqidah umat yang semakin lama semakin membesar. Cacat ini harus segera ditambal, luka harus secepatnya diperban. Agar tidak mengalir lagi korban karena TV, karena arus informasi yang salah. Dan alumni Al-Azhar adalah salah satu elemen yang bertanggung jawab atas hal ini. semoga saja “kemenangan” itu segera datang.


Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Site Owner

Foto Saya
Hussein, Cairo, Egypt
interest n honest, like humour n little humouris innocent...dan quitest..righteous,...to the point...no courtesy ...,,,bored...sometime like alone and i like tobe alone,( i dont know why),,,melankolic,,n romantic....occasionally emotional.. humble, easy going, ...(nice tobe invited by someone to go to somewhere) , also a traveller who's dream to colonize the world...at least the conqueror countries...i have to go there...yeah...God willing .,,fed up when the troubles come,...education absolutely no.1 and followed by love..hahaha kidding...i have never dated...n anti-dating....my motto is "my first girlfriend is my lovely wife...someday" hehehe....God willing.... someone said that i am bad-tempered, when my angry comes, my eyes become out ...hahaha...( joke) ....next...i hate foods wich are contain chemical substances, i am sistematically person ......but dont know how to practice ...hahaha... wanna be succesman in this world ...and the day after... God willing... ups.....i am faithfull man...oncetime i fall in love, for me its gonna be difficult to forget it ...

Renungan

Allah adalah satu-satunya yang paling berhak untuk kau jadikan tempat berharap.

Manusia yang hebat tidak akan mengeluh sebelum ia sampai pada tujuan.


Cinta adalah ketika seorang Ibu merawat anak-anaknya sendirian tanpa keluhan.


Wanita sholeha tidak akan menjajakan hatinya pada setiap lelaki dengan gratis.



Followers

Popular Posts



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Youth of a Moslem - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger