Home » , , » Surat Cinta Umum : Nikah? Siapa (yang) Takut?

Surat Cinta Umum : Nikah? Siapa (yang) Takut?

Written By MZD's on Kamis, 02 Mei 2013 | 15.40

Malam ini saya sempatkan untuk membuat sebuah catatan mengenai rencana yang akan terjadi ataupun belum akan terjadi (namun kudoakan untuk terjadi di” waktu yang tepat”-red).

Umurku sudah mencapai 24 tahun 6 bulan, kira-kira setengah tahun lagi, target utamaku menghafal Al-qur’an mestiku selesaikan, walaupun masih belum sampai setengah jalan. Syeikh Thanthawy pernah berkata, “Laisa azhariyan man lam yahfadz Al-Quran”, bukan lah seorang azhary namanya kalau belum hafal Al-Qur’an. Ulama-ulama salaf bahkan tidak seorang pun yang berani membuka kitab keilmuan, kecuali setelah menghafal Al-Quran. Ini dia salah satu perbedaan besar ulama dahulu dengan da’i-da’i (an) zaman sekarang.

Maka dari itu, aku terus berdoa, tak henti-henti bermunajat agar Tuhan memberikanku keistiqomahan dalam jalan menghafal Al-qur’an, agar selalu tenang hati yang sering galau ini. Karena cuma dengan Al-Quran aku bisa merasakan keheningan di dunia yang penuh gemerlap ini. Di dalam ayat-ayat magic itu aku bisa merasakan Tuhan dekat denganku, Tuhan sayang denganku. Ketika aku menghafalnya, aku seperti berada di bawah pohon rindang ditemani minuman dan makanan yang enak, bersama keluarga dan orang yang kucintai. Dengan Al-Quran, semua kebutuhanku terpenuhi dalam satu waktu. Seolah-olah aku berada di surga dunia. Hanya dengan membaca satu-dua juz setiap harinya sebagai wiridan harian, aku merasa Tuhan menyentuhku dari dekat. Rasanya tenang sekali. Sejuk dan tentram.

Berlalu nya hari di negeri seribu menara ini sangat cepat, tinggal menghitung hari, 23 hari lagi aku akan mengikuti ujian semester terakhir di Al-Azhar( inshaAllah). Hampir empat tahun masa belajar kulewati di sini. Ujian yang sangat berat ini membuat kepala semakin berat, ketika bercermin tiba-tiba saja kulihat sudah timbul kerutan di antara kedua alisku. Ya Tuhan, belum seperempat abad sudah berkerut keningku. Sangat boros, LOL. Otak suka overloading barangkali bisa menjadi penyebab penuaan dini LOL.

Blogger readers, sejak dahulu banyak target yang mesti kucapai dan kuiimpikan setiap harinya. Namun ada satu hal yang selalu menganggu semua konsentrasiku mengejar target itu. Satu kata yang sangat sakral dan diimpikan oleh setiap pemuda yang seumur denganku. Apalagi menyandang gelar azhary dan masih single. Kata itu adalah kata :

NIKAH!

Ya, kata ini sangatlah didamba-dambakan oleh ku dan semua teman-teman yang senasib denganku. Diantara teman-temanku pun sudah mulai berguguran satu-persatu yang melepas keperjakaannya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Padahal jika dilihat dari segi kesiapan, “sebagian” mereka ini sangatlah tidak siap (di pandanganku-red). Kenapa? Karena diantara mereka ada yang belum siap lahiriahnya-dalam artian dari segi materil- dan terkesan dipaksakan, walaupun fisik nya siap dan batinnya pun siap.

Sementara Aku? Aku tidak mau seperti itu. Aku punya prinsip. Prinsipku tidak mudah goyah, biar kata semua orang mencemooh dan tidak berpihak. Aku adalah jenis orang yang susah untuk diajak secara spontan, istilahnya “ilmu kodok” itu tidak ada dalam kamus hidupku.Karena aku tidak suka melakukan sesuatu secara tiba-tiba di luar rencana, layaknya kodok yang loncat ke sana kemari tanpa tujuan yang pasti.

Tapi jika dipikir-pikir ulang, tenyata bujangan itu susah juga. Malahan sangat susah. Masa-masa bujang ini adalah masa-masa nya kerajaan syeitan menuju puncak kejayaannya. Para syeitan terus saja bergelayut di mata ku, di pikiranku dan seluruh tubuhku. Syeitan durjana itu selalu membisikkan ke dalam hati besarku, agar aku melakukan kemaksiatan. Di setiap doaku aku menjerit kepada Tuhan agar melindungiku dari setiap celah kemaksiatan. Dengan jalan apapun itu, aku harus bisa menangkalnya.

Namun, ada satu bisikan yang tak kutau darimana asalnya, apakah itu dari setan ataukan itu dari malaikat. Dia berbisik begini,

“Cepatlah menikahlah agar terhindar dari maksiat dan hatimu tenang!”

Kata-kata ini, membuat impianku menjadi kabur, dan sungguh menyita waktuku yang seharusnya terpakai untuk hal-hal yang lebih efektif. Aku bimbang, apakah kata-kata ini dari syeitan ataukan dari malaikat. Dilihat dari isi dan diksinya, sangat tidak mungkin ini dari syeitan. LOL LOL LOL.

Karena ini, aku menjadi tidak stabil dan sering memikirkan tentang pernikahan. Apalagi kondisi saat ini sangat rawan, dimana seluruh teman-teman dimana pun berada –yang seumur denganku- ketika ngobrol denganku pasti tidak lepas dari satu pertanyaan diacungkan ke arah ku, “kapan rencana nikah?”. Seolah-olah aku sudah umur 35 saja, LOL.

Tapi, tafsiranku tentang bisikan syeitan itu karena ada alasannya juga. Sering, di saat bisikan itu datang, aku membayangkan hal-hal indah di hari pernikahanku. Aku membayangkan hari pernikahanku dengan seorang gadis cantik dan sholeha, memakai long-dress putih dan seluruh tubuhnya tertutup rapi. Ku genggam tangannya menuju pelaminan sesaat setelah akad nikah, dan kemudian kami bertukar cincin perak bermata berlian. Dia mencium tanganku, suaminya. Duduk di singgasana pelaminan khas adat minangkabau. Dan kemudian dalam resepsinya, aku menjadi seorang “marapulai” lengkap dengan tongkat, kopiah, dan sandal kebesarannya, layaknya seorang datuk maringgih. Dan istriku, sang “anak daro” lengkap dengan pakaian merah keemasan dengan sunting besar berwarna emas sebagai mahkota nya. Di hadapan kami ribuan orang menyalami dan memberikan selamat atas pernikahan ini, mereka menikmati hidangan di walimah dan pesta pernikahan ini dengan sangat antusias, diiringi irama sufistik modern yang turut memeriahkan suasana bahagia itu. Oh… indahnya…

Ada lagi skenario kedua, pernikahan “diam-diam”. Pernikahan yang hanya dihadiri keluarga dan orang terdekat saja. Pernikahan yang sangat khusyuk dan jauh dari hingar bingar dunia. Aku berfikir bahwa setelah menikah nanti banyak yang bertanya, dan banyak yang mempertanyakan, bisa dibayangkan betapa hebohnya masyarakat dunia. Ah lebay…

Dan kemudian aku kembali tersadar dari lamunan “aneh” ini untuk ke sekian kalinya. Hidup itu perjuangan, untuk meraih kesenangan perlu perjuangan. Hidup bukan cuma ada di dalam mimpi layaknya komik Cinderella ataupun cerita cinta Majnun Laila ataupun drama Korea. Hidup ini penuh dengan cobaan dan rintangan, dunia ini tidak hanya enak-enak saja, perlu juga dipikirkan pahit-pahitnya.

Aku sudah bertekad untuk meraih kesenanganku setelah seluruh jerih payahku ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluargaku, terkhusus ibu-ku yang sudah tiada. Orang yang sepenuh hidupnya mengorbankan dirinya untuk kebahagiaanku. Aku tidak akan mengecewakannya, untuk menggapainya walau sampai mati pun aku rela. Aku mesti menggapai kesuksesan dahulu, janji ini sudah tertanam di hati kecilku. Walaupun kadang goyah karena setiap hari kebanjiran undangan pernikahan di dunia nyata maupun di facebook 

Mereka selalu berusaha membuat ku iri dan dengki dengan pernikahan mereka, walaupun kadang mereka berhasil tapi aku tetap mesti bertahan dan bertahan. Walaupun gak ada pulsa LOL. (Jaka Sembung Gak Nyambung, Jaka Sembung nya udah pinter LOL)

Ringkas kata, kenapa aku belum menikah sampai sekarang?

Ini dia jawabannya bagi para pembaca yang penasaran, sebagai penjawab kenapa aku sampai sekarang masih menahan keinginan yang menggebu-gebu ini . Barangkali ada yang sependapat denganku, yok sharing bareng:

1. Mengejar mimpi, mengejar sukses. Menjadi “orang” dahulu. Menjadi “sesuatu” sebelum melakukan sesuatu.

Aku adalah seorang lelaki biasa yang punya keinginan dan birahi, namun aku tidak sanggup mengorbankan impian yang selama ini aku cita-citakan hanya untuk birahi yang cuma sesaat. Tidak berani mengambil keputusan beresiko besar ini, apalagi hingga membuat cita-cita dan impianku terabaikan. Adapun takaran mimpi, ukuran kesuksesan duniawi, semuanya tergantung pribadi masing-masing. Rahasia masing-masing aja ya 

2. Mencari wanita yang sesuai. Sesuai dengan agama, sesuai dengan keluarga, dan sesuai di mata.

Tentunya sebagai lelaki, aku punya kriteria tertentu dari wanita untuk dijadikan istri. Aku harus tahu benar, paham benar sifat dari istriku. Apakah dia seorang yang cerewet atau pendiam, apakah dia seorang yang pemberi semangat atau kalem, apakah dia seorang yang humoris atau anggun, apakah dia tinggi atau pendek, apakah dia putih atau hitam, apakah dia pintar atau biasa-biasa saja, apakah dia penurut atau suka protes, apakah dia pernah punya pacar atau tidak, dan yang paling penting adalah apakah dia masuk denganku ketika berkomunikasi atau tidak. Tentunya ini semua di luar syarat sholeha dan cantik adalah dua syarat utama yang tak akan terpisahkan LOL.

3. Takut gagal, takut salah, takut kehilangan dan takut-takut yang lainnya.

Seorang bujangan yang memutuskan untuk sendiri dahulu, punya rasa takut di hatinya. Ada ketakutan bahwa nanti ia akan gagal berumah tangga, atau ia tidak mampu membimbing keluarganya ke jalan yang benar, atau takut salah pilih istri dan ternyata tidak sesuai dengan keinginan, atau ia takut tidak mampu menafkahi keluarganya dan menjadi seorang ayah yang tidak becus. Takut akan kesalahan yang barangkali pernah ia lihat secara langsung dalam kehidupannya di masa lalu. Sangat berpengaruh pada faktor psikologis seorang bujangan yang belum menikah.

Ini adalah tiga alasan utama, kenapa aku masih berfikir untuk melakukan pernikahan sampai hari ini. Dan masih banyak alasan lainnya yang tidak bisa kusebutkan satu-satu berhubung mataku sudah minta jatah (sudah jam 11 lewat bung! Hei! Stop writing! -_- )

Entahlah lain cerita, jika Tuhan berhendak lain, bahwa besok hari aku tiba-tiba di rubah pikirannya dan disulap oleh malaikat menjadi seorang yang berbalik 180 derjat dari hari ini-ketika aku mencatat note ini-.

Apapun takdir itu, siapapun nantinya yang akan mengisi hati ini, menjalani hari-hari bersamaku, dia akan ada di pelukanku setiap hari, dalam suka maupun duka, dan menjadi penyemangat sekaligus motivator hidupku, menjadi ibu dari anak-anakku, dan menghangatkan seisi rumah dengan cinta dan kasih sayang. Dialah orang yang paling beruntung di atas dunia ini, karena telah mendapatkan seorang lelaki yang setia, yang cintanya susah untuk berubah, tak lekang oleh badai dan ombak yang menghantam.

Di atas itu semua, aku sangat sadar sesadar-sadarnya, bahwa mencintai berarti menerima segala kekurangan dan kelebihan orang yang dicintai, dalam keadaan senang ataupun susah, di waktu ada maupun setelah tiada. Cinta. Adalah hal yang agung, dan tak akan lekang di tangan sang pencinta. Jejaknya seperti ukiran di atas kayu jati, tak kan lusuh dimakan senja, tak kan hilang dibatasi ruang, tak kan pupus ditelan zaman. Abadi. [mzd]

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Site Owner

Foto Saya
Hussein, Cairo, Egypt
interest n honest, like humour n little humouris innocent...dan quitest..righteous,...to the point...no courtesy ...,,,bored...sometime like alone and i like tobe alone,( i dont know why),,,melankolic,,n romantic....occasionally emotional.. humble, easy going, ...(nice tobe invited by someone to go to somewhere) , also a traveller who's dream to colonize the world...at least the conqueror countries...i have to go there...yeah...God willing .,,fed up when the troubles come,...education absolutely no.1 and followed by love..hahaha kidding...i have never dated...n anti-dating....my motto is "my first girlfriend is my lovely wife...someday" hehehe....God willing.... someone said that i am bad-tempered, when my angry comes, my eyes become out ...hahaha...( joke) ....next...i hate foods wich are contain chemical substances, i am sistematically person ......but dont know how to practice ...hahaha... wanna be succesman in this world ...and the day after... God willing... ups.....i am faithfull man...oncetime i fall in love, for me its gonna be difficult to forget it ...

Renungan

Allah adalah satu-satunya yang paling berhak untuk kau jadikan tempat berharap.

Manusia yang hebat tidak akan mengeluh sebelum ia sampai pada tujuan.


Cinta adalah ketika seorang Ibu merawat anak-anaknya sendirian tanpa keluhan.


Wanita sholeha tidak akan menjajakan hatinya pada setiap lelaki dengan gratis.



Followers

Popular Posts



 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Youth of a Moslem - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger